Hari Nelayan Indonesia, Apresiasi Pemerintah

Bykud minosaroyo

Hari Nelayan Indonesia, Apresiasi Pemerintah

Hari Nelayan

KBRN, Jakarta: Tanggal 6 April merupakan Hari Nelayan Indonesia. Peringatan Hari Nelayan merupakan penghargaan tertinggi dari pemerintah untuk nelayan. Sebanyak 60 persen, penduduk Indonesia berada di pesisir.

Kepala Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Suseno Sukoyono menjelaskan essensi dari peringatan Hari Nelayan adalah bagian dari kearifan lokal nelayan Indonesia kepada alam. Nelayan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberlimpahan ikan yang dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia. “Essensinya juga memberikan apresiasi kepada nelayan,” kata dalam perbincangan bersama Radio Republik Indonesia, Sabtu (4/3/2015).

Di era kepemimpinan Menteri Keluatan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, pengelolaan laut Indonesia bertumpu pada tiga aspek yakni kedaulatan. Sejumlah kebijakan dari Menteri Susi telah dikeluarkan untuk menegakan kedaulatan Indonesia disektor kelautan seperti moratorium perizinan kapal tangkap eks asing berkapasitas 30 GT keatas , larangan alih muatan produk perikanan di tengah laut dan penenggalaman kapal pencuri ikan.

Kedua adalah aspek berkelanjutan atau sustainable. Pemerintah menginginkan sumber daya laut juga dapat nikmati oleh generasi bangsa berikutnya. Ada contoh, ikan tertentu mulai menyusut. Dahulu bahan baku utama untuk makanan khas Palembang pempek adalah ikan belida. Kini ikan belida sulit didapat maka bahan baku utama diganti dengan ikan tenggiri. Bahkan tidak sedikit seperti di Jakarta, menggukan ikan lele sebagai bahan baku utama pempek.

“Ini menunjukan ikan punah. Kenapa bisa punah?. Karena kecepatan perkembangan perkembangan ikan kalah cepat dengan teknologi. Sekarang dengan peralatan canggih ikan di sedot”. Ketiga, kesejahteraan. Kebijakan pemerintah disektor kelautan dan perikanan ditunjukan untuk kesejahteraan. Kebijakan Menteri Susi mulai membuahkan hasil. Dia mengaku mendapatkan kabar bahwa tangkapan ikan nelayan berlimpah ruah. Sementara di dunia tengah kekurangan pasokan ikan.

“Kita sedang berproses apa yang disebut poros maritim. Jadi seperlima ada di Indonesia dan pemesanan di stop. Negara lain kesulitan,” tegasnya. (Sgd/BCS)

About the author

kud minosaroyo administrator

Leave a Reply